Inspirasi Pengusaha Kacamata Terbesar Pertama di Indonesia : A Kasoem

Inspirasi Pengusaha Kacamata Terbesar Pertama di Indonesia : A Kasoem

Inspirasi Pengusaha Kacamata Terbesar Pertama di Indonesia : A Kasoem

Atjoem Kasoem lahir tahun 1918 (versi Wikipedia: 9 Januari 1916) di Kampung Bojong, Kadungora, Garut, dari keluarga petani kaya raya.

Pamannya, seorang lulusan Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru), merupakan seorang guru, sehingga anak-anaknya (yang tak lain sepupu-sepupu Kasoem) bisa menikmati pendidikan Barat.

Melihat hal tersebut, Kasoem mencoba mencontoh sepupu-sepupunya itu.

Lalu Kasoem beberapa lama mengikuti pelajaran di sebuah Schakelschool (sekolah tambahan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran).

Karena itulah ia bisa melanjutkan pendidikannya di Taman Siswa dan kemudian mengikuti beberapa kuliah di sebuah sekolah dagang di Bandung.

Di Bandung ini ia bertemu dengan seorang Jerman, Kurt Schlosser, yang punya toko kacamata besar di Jl. Braga.

Schlosser mengatakan padanya bahwa betapa pentingnya industri kacamata jika kelak Indonesia merdeka.

Mendengar itu, Kasoem tertarik. Mulanya ia menjajakan kacamata yang dipercayakan Schlosser padanya door to door, lalu membuka toko kecil sendiri di Jl. Pungkur. 

Ketika Perang Pasifik meletus, Schlosser terpaksa meninggalkan tokonya di Braga (dan pulang ke Jerman?).

Menurut penuturan salah seorang cucunya, seluruh aset Kurt Schlosser dibeli resmi oleh Kasoem dengan modal dari menjual mobil sang istri.

Maka, Kasoem pun “mengambil alih” usaha kacamata di Bandung.

Di tengah pendudukan Jepang, usaha Kasoem tetap selamat berkat uluran tangan Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa sekaligus tokoh nasional yang punya pengaruh terhadap pimpinan militer Jepang di Bandung.

Pada Mei 1943, Atjoem Kasoem bisa membuka toko kacamata di Braga No. 21—dialah “pribumi” pertama yang punya toko di jalan elit tersebut.

Setelah Proklamasi 1945 dan kemudian Sekutu lalu Belanda datang dan mengakibatkan berkobarnya “Revolusi Fisik” di Bandung, umumnya di kota kota besar di Indonesia, Kasoem memilih pindah ke Tasikmalaya dan melanjutkan bisnis kacamatanya selama beberapa bulan.

Keberadaannya menarik perhatian Bung Hatta, Sang Wakil Presiden, yang kemudian mengajaknya untuk pindah ke Yogyakarta, ibukota baru RI. Jalan yang lebar mulai dijejakinya. 

Di Yogyalah karier Kasoem sebagai pengusaha kacamata benar benar mantap.

Selama tiga tahun di Kota Gudeg tersebut, ia menyediakan kecamata bagi semua orang Republik terkemuka, termasuk Bung Karno.

Untuk mengatasi kesulitan pemasokan kacamata, ia membuka bengkel pengasahan kecil di Klaten.

Tahun 1949, setelah kedaulatan RI diakui pemerintah Belanda dan ibukota Republik balik lagi ke Jakarta, Kasoem pun balik Bandung. 

Setiba di Bandung, ternyata toko milik Schlosser yang di zaman Jepang ditempatinya, telah dihuni oleh sejumlah orang Tionghoa.

Setelah melalui jalur pengadilan yang lumayan panjang, tahun 1952 barulah Kasoem bisa menempati toko tersebut lagi.

Selain di Bandung, cabang-cabang optik Kasoem tersebar di Cirebon dan Jakarta (di sini empat toko sekaligus) serta di Tasikmalaya dan Yogyakarta, dua kota yang ketika zaman Revolusi pernah ia tempati.

Meski begitu, stoknya masih berasal dari luar negeri, sehingga Kasoem putar akal agar bisa memproduksi sendiri kacamata-kacamatanya.

Tahun 1960, Kasoem terbang ke Jerman untuk ikut pendidikan tambahan  dalam sebuah pabrik kacamata terbesar pimpinan Dr. Hermann Gebest di sana. 

Dengan dukungan teknik Jerman, namun dengan modal pribadi sebanyak 69 juta rupiah serta pinjaman yang cukup besar dari Bank Negara, Kasoem membangun sebuah pabrik kacamata modern di kampung halamannya, Kadungora.

Peresmian pabrik ini digelar pada September 1974, dan dihadiri oleh kenalan lama semasa di Yogya, yakni Sultan Hamengkubuwono IX, yang saat itu merupakan Wakil Presiden RI (versi Wikipedia mengatakan Adam Malik).

Tak hanya kaca untuk kacamata, Kasoem juga memproduksi kaca untuk alat foto dan mikroskop. 

Dalam hal bisnis, Kasoem sudah tegas bahwa dirinya takkan pernah minta pinjaman luar negeri, dan sebelum dilakukan perluasan baru terkiat bisnisnya ia menghendaki pelunasan utangnya terlebih dulu.

Ia pun mendidik putranya agar kelak dapat menggantikannya, dan juga mengharapkan cucunya nanti meneruskan usahanya tersebut. 

Slogan iklannya yang terkenal—“Kasoem, Optik, Bandung”—membuat mereknya begitu kesohor.

Kasoem juga terkenal suka membantu anak-anak muda Sunda yang ingin dan layak melanjutkan pendidikannya.

Kasoem wafat pada 11 Juni 1979 di Bandung.

Usahanya lalu dilanjutkan oleh Lily Kasoem, salah seorang anaknya, dan tetap bertahan hingga kini.

Inspirasi Pengusaha Kacamata Terbesar Pertama di Indonesia : A Kasoem

Inspirasi Pengusaha Kacamata Terbesar Pertama di Indonesia : A Kasoem

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Inspirasi Pengusaha Kacamata Terbesar Pertama di Indonesia : A Kasoem"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel